Love in The Rubber Shoes
(Cinta di Sepatu Karet)
(Cinta di Sepatu Karet)
Ini
bukan cerita cinta Cinderela dengan sepatu kacanya. Bukan juga tentang gadis
yang selalu dikucilkan oleh keluarganya, lalu mendapat sebuah keajaiban
sehingga dia menjadi permaisuri dari pangeran tampan.
Aku
adalah seorang siswi biasa, yang selalu sibuk dengan pekerjaan sekolahku
sendiri. Hari ini, Senin, empat November 2013, sebenarnya hari senin adalah
hari yang paling menyebalkan menurutku. Tapi kali ini tidak.
“Sarah
, kalau sudah ganti baju cepetan kemari, ibu punya sesuatu buat kamu ”,
terdengar suara ibu dari dapur. Serigaiku dengan cepat
“ iya ibu”. Segera kupercepat gerakanku karena
tidak sabar ingin melihat apa sebenarnya yang ibu maksud “ sesuatu” itu.
Setelah selesai segera kuberlari menuju dapur. Ibu yang sudah tau kedatanganku
segera berkata,
“
bukalah kudung saji itu ibu tadi beli sesuatu dipasar kelihatanya cocok
untukku”.
Lalu kubukalah kudung saji disampingku. Eh…
ternyata sepatu karet, yang aku kira tadi makanan.
“
Pakai saja warnanya kan udah hitam, cocok buat sekolah.” Katanya sambil
cengar-cengir.
“
Emm… kelihatnya cocok sich bu, mumpung awal minggu pakek aja dech”. Tanpa ku pikir
panjang segera ku ambil sepatu itu dan memakainya. Karena matahari semakin
percaya diri menampakkan wajahnya yang begitu hangat, aku segera melangkahkan
kakiku ke sekolah tercintaku SMKN 1 NGLEGOK. Langit yang semula tersenyum
hangat menyapa pagi semakin lama semakin terlihat redup, upacara bendera hari
ini ditemani turunnya hujan gerimis yang tak melunturkan semangat kami untuk
melanjutkan upacara. Setelah upacara selesai, pasukan upacara yang seharusnya
dibubarkan ternyata ditahan oleh tim tatib, untuk melakukan penertiban kepada
siswa dan siswinya. Aku hanya diam seperti biasa ngobro dengan teman disampingku
seperti anak yang tak punya salah. Tiba-tiba,
“
Nak, sepatumu itu apa dari karet?” kata salah satu guru padaku, sambil memegang
pundakku. Aku yang mendengar perkataan itu langsung tersentak dan mulai gugup.
“
I….i.. iya pak !”
“
Cepat, maju kedepan”
Aku
hanya diam dan bingung mendengar perkataan guru itu, sambil melangkahkan kaki
ke depan barisan. Malu bercampur dengan gemetarnya tubuh ini sangat membuatku
salah tingkah. Setelah semua anak yang melanggar di bariskan, kami diberi
pembinaan. Setelah itu, karena aku satu-satunya anak yang memakai sepatu karet,
aku harus melepas sepatuku dan harus telanjang kaki,
“Tapi
Pak, nanti saya pakai apa?”
“Tidak
usah banyak bicara, cepat lepas !”
Bukannya
menjawab guru itu malah menyentakku. Sebenarnya aku marah tapi ku coba relakan
sepatu pemberian ibuku itu padanya.
“Karena
kamu melawan, LARI LAPANGAN DUA KALI!”
Karena
aku takut dihukum lebih berat, aku segera berlari mengelilingi lapangan. Malu
sih.. tapi cuek aja. Di tengah-tengah aku berlari dan melewati seorang anak
laki-laki, tiba-tiba aku terjatuh dan dia …..
Bersambung
….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar