Sabtu, 21 Juni 2014

CERPEN: LOVE IN THE RUBBER SHOES

Love in The Rubber Shoes
(Cinta di Sepatu Karet)

Ini bukan cerita cinta Cinderela dengan sepatu kacanya. Bukan juga tentang gadis yang selalu dikucilkan oleh keluarganya, lalu mendapat sebuah keajaiban sehingga dia menjadi permaisuri dari pangeran tampan.
Aku adalah seorang siswi biasa, yang selalu sibuk dengan pekerjaan sekolahku sendiri. Hari ini, Senin, empat November 2013, sebenarnya hari senin adalah hari yang paling menyebalkan menurutku. Tapi kali ini tidak.
“Sarah , kalau sudah ganti baju cepetan kemari, ibu punya sesuatu buat kamu ”, terdengar suara ibu dari dapur. Serigaiku dengan cepat
 “ iya ibu”. Segera kupercepat gerakanku karena tidak sabar ingin melihat apa sebenarnya yang ibu maksud “ sesuatu” itu. Setelah selesai segera kuberlari menuju dapur. Ibu yang sudah tau kedatanganku segera berkata,
“ bukalah kudung saji itu ibu tadi beli sesuatu dipasar kelihatanya cocok untukku”.
 Lalu kubukalah kudung saji disampingku. Eh… ternyata sepatu karet, yang aku kira tadi makanan.
“ Pakai saja warnanya kan udah hitam, cocok buat sekolah.” Katanya sambil cengar-cengir.
“ Emm… kelihatnya cocok sich bu, mumpung awal minggu pakek aja dech”. Tanpa ku pikir panjang segera ku ambil sepatu itu dan memakainya. Karena matahari semakin percaya diri menampakkan wajahnya yang begitu hangat, aku segera melangkahkan kakiku ke sekolah tercintaku SMKN 1 NGLEGOK. Langit yang semula tersenyum hangat menyapa pagi semakin lama semakin terlihat redup, upacara bendera hari ini ditemani turunnya hujan gerimis yang tak melunturkan semangat kami untuk melanjutkan upacara. Setelah upacara selesai, pasukan upacara yang seharusnya dibubarkan ternyata ditahan oleh tim tatib, untuk melakukan penertiban kepada siswa dan siswinya. Aku hanya diam seperti biasa ngobro dengan teman disampingku seperti anak yang tak punya salah. Tiba-tiba,
“ Nak, sepatumu itu apa dari karet?” kata salah satu guru padaku, sambil memegang pundakku. Aku yang mendengar perkataan itu langsung tersentak dan mulai gugup.
“ I….i.. iya pak  !”
“ Cepat, maju kedepan”
Aku hanya diam dan bingung mendengar perkataan guru itu, sambil melangkahkan kaki ke depan barisan. Malu bercampur dengan gemetarnya tubuh ini sangat membuatku salah tingkah. Setelah semua anak yang melanggar di bariskan, kami diberi pembinaan. Setelah itu, karena aku satu-satunya anak yang memakai sepatu karet, aku harus melepas sepatuku dan harus telanjang kaki,
“Tapi Pak, nanti saya pakai apa?”
“Tidak usah banyak bicara, cepat lepas !”
Bukannya menjawab guru itu malah menyentakku. Sebenarnya aku marah tapi ku coba relakan sepatu pemberian ibuku itu padanya.
“Karena kamu melawan, LARI LAPANGAN DUA KALI!”
Karena aku takut dihukum lebih berat, aku segera berlari mengelilingi lapangan. Malu sih.. tapi cuek aja. Di tengah-tengah aku berlari dan melewati seorang anak laki-laki, tiba-tiba aku terjatuh dan dia …..





Bersambung ….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar