Dia lah orang yang
paling berjasa dalam pembuatan istana-istana di desa ini. Setiap orang yang
berniat membuat rumah pasti tak luput dari jasa bapak meskipun dia hampir
menginjak umur kepala lima, tapi ilmu mengolah tanah yang dimiliknya dapat
bermanfaat sehinga dapat membantu masyarakat di desa ini.
Dia di kenal dengan
nama Sukarno, mirip sich sama presiden Indonesia pertama bedanya dia pakai
huruf “ U” , dan juga lagi dia juga buka presiden, hanya saja pekerjaannya
lebih kasar dari presiden yaitu kuli, beliau kuli bangunan nomor satu di desa
ini. Dia bukan tamatan sarjana dan juga bahkan hanya sampai tamatan SMP.
Semangat, niat dan usahalah dia bekerja sehingga dapat bertahan hidup denga
keluarganya.
Beliau mempunyai satu
orang anak laki-laki berumur satu setengah tahun dari buah perkawinannya dengan
sang istri yang bernama Sukarmi, dua tahun lalu. Sukarno dan istrinya Sukarmi
masih tinggal satu atap dengan orang tua, karna masih belum punya biaya untuk
mencari atau membuat rumah sendiri. Di samping itu di rumah orang tuanya
Sukarno, Sukarno mempunya adik perempuan yang bernama Suprihatin yang sudah
lebih dulu menikah dan mempunyai satu anak laki dan satu anak perempuan yang
sudah masuk jenjang taman kanak-kanak.
Anak laki-laki Sukarno
ia namai Bima, sedangkan dua anak Suprihatin dia namai Rendi dan Bimbi. Anak
laki-laki Suprihatin si Rendi, dia sangat dekat hubunganya dengan pamannya
Sukarno, kemana-mana mereka berdua selalu bersama, hampir mirip dengan bapak
dan anak kandung. Rendi dekat dengan Sukarno karena bapaknya, sudah dua tahun
pergi ke luar negeri menjadi TKI ( Tenaga Kerja Indonesia) .
Pas hari minggu saat para
pelajar libur sekolah, Sukarno mengajak Rendi untuk membantunya kerja di rumah
pak RT karna dapurnya akan di renovasi.
“ Ren bangun, Ren
bangun udah siang, ayo cepet wudlu dan shalat setelah itu bantu paman kerja Ren
di rumah Pak RT” dengan masih keadaan malas-malasan, Rendi bangun dan mulai
merapikan tempat tidurnya.
Dengan semangat Rendi
ikut pamanya kerja, karna Rendi jarang-jarang bisa kerja bareng sama pamannya,
meskipun Rendi masih kecil tapi tak pernah membuat si Sukarno merasa terganggu
akan tingkah laku anak yang hampi berumur enam tahun itu.
Rendi menikmati kerja
dengan pamannya, dia membantu membawa beberapa pasir dan semen yang di angkut
ke dalam truk kecil yang di belikan Sukarno untuk Rendi. Pak RT merasa terharu
sekali melihat mereka berdua akur sekali.
Rendi minta pamannya
untuk beristirahat sebentar, sambil minum secangkir teh hangat dan dua porsi
pisang goreng dan singkong rebus yang sudah di sediakan Pak RT .
Di sela-sela
beristirahat Rendi berkata “ Begini ya paman rasanya bekerja, asyik dijalani
bersama dan tapi terasa capek banget paman!”
“ Emang kaya gini le,
kerja. Nanti kalo kamu sudah besar jangan jadi kuli kayak paman, kmu harus
lebih dari paman kalau bisa pimpinannya para kuli-kuli” Sukarno menasihati
Rendi.
Rendi termenung dan memikir
“ Kok masih ada kata-kata kuli paman, saya pengen jadi arsitek paman, orang
yang lebih tinggi dari kuli itu katanya mamaku”
Sukarno menyambungkan
pembicaraan keponakannya itu “ Iya wes le, pokok kamu jangan kayak paman. Ya
sudah yuk kita kembali kerja lagi le, sebentar lagi juga waktunya pulang”,
Rendi segera menghabisakan teh hangatnya, dia kehausan setelah hampir seporsi
pisang goreng di lahapnya!
Mereka berdua
melanjutkan kerja setelah selama istirahat Sukarno dan keponakannya mengisi
istirahatnya dengan bergurau bersama.
Pak RT datang menghampiri mereka berdua, beliau senyam-senyum sendiri melihat
sepasang anak dan bapak, meskipun mereka bukan sekandung.
Matahari semakin
tinggi, jam pulang kerja menghampiri menit demi menit. Setelah bunyi suara adzan
berkumandang, mereka hendak pulang dengan melukiskan rasa syukurnya akan apa
yang telah mereka lakukan hari ini. Memang mereka tak sekandung, tapi rasa
cinta dan kasih sayang dengan keluarga yang membuat mereka semakin lekat.
Sampai di rumah,
Sukarmi sudah menyiapkan sepoci es jeruk, kesukaan Sukarno. Sambil mereka
melepas penat, mereka menyruput es jeruk dengan melihat motoGP. Seperti halnya
melihat langsung, mereka berteriak-teriak tak jelas mendukung pembalap
favoritnya.
Hampir setiap minggu
Sukarno mengajak Rendi, kerja membantu dia nguli. Rendi tak keberatan jika
bekerja bersama pamannya membuat dia senang dan melupakan kegelisahannya di
tinggal bapaknya di luar negeri.
Ketika purnama
memancarkan sinar di tengah ribuan bintang, Sukarno sedang memomong anaknya si
Bima. Sukarno bermain dengan bima, mengajarkan Bima berjalan.
“ Nang ning, ning nang
ning gong. Anak bapak sing pinter, cepatlah besar nak, hendak kau akan gantikan
bapak jadi pemimpin yang lebih besar dan mulia dari bapakmu ini”, kata Sukarno
saat menimang-nimang Bima.
Sukarmi datang
menghampiri Sukarno, Sukarmi memegang pundak Sukarno dan dia menasihati
suaminya.
“ Bapak, lihatlah
anakmu ini pak, dia sudah bisa berjalan. Dia akan jadi Bima seperti cerita yang
ada di pewayangan” Ujar istri Sukarno itu.
Bima berjalan dengan
alat bantu berjalan bayi
Pagi harinya Sukarno memulai harinya dengan baca
bismilah setelah itu dia sholat subuh mendenar ayam berkokok dari kandang
tetangga. Kemudia dia langsung ke ruang makan, makan bersama keluarganya termasuk
Suprihatin dan dua anaknya. Semua terlihat riang gembira.
Di Sela mereka makan,
Bimbi anak perempuan Suprihatin bertanya kepada Sukarno
“ Paman kemarin Rendi
di ajak kemana paman?” tanya Bimbi.
Sukarno menjawab “
Kemarin Bim, Rendi pengen ikut paman kerja, dia bantu paman!”
“ Masak sich si Rendi
bisa bantui paman, biasanya dia bisanya Cuma ngompolin kasur, sampai setiap
hari ganti spray” Bimbi berkata sambil melirik ke arah Rendi.
“ Kenapa kalau aku
bantu paman Sukarno, kamu cemburu. Cewek apa bisa bantu pekerjaan laki-laki,
paling juga bisanya main rumah-rumahan di pasir” Rendi membalas perkataan Bimbi
sambil membuang muka.
Suprihatin berusaha
melerai pertikaian anak-anaknya “ Sudah-sudah kalian ini, gak cowok gak cewek
sama-sama gak bisa fair play kalo debat, debat itu yang fair play kayak calon presiden kita dulu”
“ Ah ibu malah nambahin
Bimbi panas tau, panasnya di hati bu!” Bimbi meredam amarahnya.
Setelah mereka semua
selesai makan, Bimbi dan Rendi berangkat sekolah. Sedangkan Sukarno berangkat
bekerja di proyek pembangunan poskesdes di kelurahan. Dua keponakannya tersebut
berangkat bersama dengan Sukarno naik sepeda motor dengan santai. Sampai di
sekolah mereka, keponakannya berpamitan dengan Sukarno dan tak lupa mereka
mengucapkan
“ Hati-hati paman terimakasih, semoga lancar harimu paman”
mereka berdua berteriak serentak. Sukarno hanya membalas dengan lambaian tangan
dari kejauhan.
Di tengah jalan,
Sukarno berkhayal. Kelak nanti jika dia sudah tidak menguli lagi, dia akan buat
usaha yang berkaitan dengan bangunan. Kemudian dia juga ingin membuat suatu
lapangan kerja, agar dia juga yang dapat memimpin.
Sukarno bekerja sambil
terus membayangkan apa yang sedang di pikirkan di jalan tadi. Secara tidak
sengaja ada Pak RT yang memanggil Sukarno, Sukarno yang sedang naik tangga
langsung kaget dan jatuh pingsan.
Semua kuli termasuk Pak
RT ikut membantu menggotong Sukarno ke kasur, ke dua lutut Sukarno sedikit
terluka karna jatuh tadi. Pak RT menyuruh Bu Panti untuk mengobati Sukarno dengan obat merah. Pak RT se akan merasa bersalah, Pak RT memanggil
istri Sukarno. Sukarmi sedikit terkejut mendengar berita tersebut, Sukarmi
langsung pergi ke rumah poskesdes kelurahan.
Bu Panti tak sanggup
untuk menangani Sukarno, karna lukanya sangat kritis dibagia lutut dan
lehernya. Beliau menyarankan untuk membawa Sukarno ke rumah sakit, ke rumah
sakit Sukarno di bawa dengan mobil milik suaminya Suprihatin yang di kendarai
Pak RT. Langsung tancap gas ke rumah sakit dengan sedikit tegang.
Sampainya rumah sakit
hujan tangis pun datang saat dokter tidak segera menangani Sukarno. Suprihatin
dan ke dua anaknya Rendi dan Bimbi ikut datang menjenguk Sukarno. Sukarno
tiba-tiba di bawa ke ruang icu untuk pengobatan lebih lanjut.
Satu jam Sukarno masih
belum bangun, dan dokter mengatakan Sukarno mengalami masa koma. Se isi ruang
tunggu rumah sakit bergema suara tangisan. Pak RT turut bersalah dan minta maaf
kepada keluarga Sukarno.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar